KEROKAN

Written on 8/15/2008 08:57:00 AM by yoeharto blog

Sejak ribuan tahun yang lalu telah dikenal cara pengo­batan menggunakan sentuhan, tekanan dan tusukan di permukaan tubuh yang dapat memberi kesembu­han berbagai macam penyakit. Bangsa Indonesia mempunyai beragam pengobatan tradisional; salah satunya adalah kerokan, khususnya di kalangan mas-yarakat di Jawa. Kerokan adalah suatu metoda pengobatan dengan cara menekan dan menggeserkan benda tumpul (biasanya uang logam) secara berulang-ulang di permukaan kulit sampai terjadi bilur-bilur ber­warna merah. Dalam melakukan kerokan tersebut diperlukan cairan yang berfungsi sebagai pelicin misal­nya minyak herbal, skin lotion, balsem.

 

Pengobatan ini ternyata tidak hanya dikenal di lingkungan masyarakat Jawa tetapi menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia; bahkan sebagian besar bu­daya Asia Tenggara mempercayai efek penyembuhan pengobatan ini. Di Vietnam pengobatan ini disebut Cao Gio, di Kamboja disebut Goh Kyol (rubbing the wind). Kyol sendiri diartikan sebagai wind illnes atau masuk angin. Di Cina disebut Gua Sha, Gua berarti menggosok (scraping) sedangkan Sha berarti racun (toksin). Di Cina kerokan tidak menggunakan uang logam tetapi batu Jade sehingga disebut Jade stone therapy yang diindikasikan untuk pengobatan osteopo­rosis, nyeri bahu, nyeri punggung, nyeri sendi, lumba­go, skiatika, fibromialgi, migren, cedera olahraga dan lain-lain. Di Cina terdapat ribuan pengobat jade stone karena merupakan pengobatan rakyat, dan dapat menurunkan health care cost. Di Barat kerokan disebut coining atau coin rubbing. karena pada awalnya yang mereka ketahui pengo­batan ini menggunakan mata uang logam yang dice­lupkan kedalam air atau anggur.

Di Jawa kerokan merupakan suatu pengobatan yang dilakukan pada kondisi khusus yang disebut masuk angin. Masyarakat awam menggunakan istilah masuk angin untuk menggambarkan berbagai keadan yang berhubungan dengan rasa tidak enak badan seperti perut kembung, pegal linu, batuk pilek, sakit kepala dan lain-lain. Bagian tubuh yang dikerok biasanya adalah punggung, leher belakang, dada, lengan dan kadang tungkai atas. Di punggung dilakukan di sisi kanan dan kiri tulang belakang dari atas ke bawah, kemudian menyamping dari tengah ke tepi, di bagian le­her belakang dilakukan dari atas ke bawah dan di dae­rah dada dilakukan dari tengah ke tepi. Kerokan tidak menyebabkan rasa sakit jika dilakukan dengan benar, warna merah yang terjadi dapat dipakai sebagai pe-ngukur berat ringannya masuk angin, makin merah warnanya makin berat derajat sakitnya. Pengobatan ini memberi hasil yang sangat mengagumkan karena bekerja melalui bermacam-macam sistem antara lain kulit, otot, pembuluh darah, saraf, limfa, sistem imun dan meridian.

Prinsip kerokan menurut Dr. Koosnadi Saputra, Sp.R, akupunkturis klinik, mirip prinsip pemanasan dengan menggunakan moxa yang sering dipakai saat jarum akupunktur ditusukkan pada tubuh untuk mengatasi masuk angin. Prinsip ini juga tidak jauh berbeda dengan model terapi kop yang biasanya menggunakan alat seperti tanduk, gelas, karet, tabung bambu dan lain-lain. Di negeri asal teknik akupunktur, model terapi ini sudah resmi dipakai sebagai sarana penyembuhan. Menurut Mochtar Wijayakusuma, putra Hembing Wijayakusuma yang juga seorang akupunkturis, penelitian mengapa kerokan memiliki efek menyembuhkan juga pernah dilakukan di Universitas Ghuan Thou, sebuah universitas terkenal di Cina. Dr. Koosnadi menyebutkan, prinsip kerokan adalah upaya meningkatkan temperatur dan energi pada daerah yang dikerok.


Peningkatan energi ini dilakukan dengan pemberian rangsang kulit tubuh bagian luar. Dengan merangsang permukaan kulit lewat dikerok, saraf penerima rangsang di otak menyampaikan rangsangan untuk menimbulkan efek memperbaiki organ yang terkait dengan titik-titik meridian tubuh seperti misalnya organ paru-paru. Dr. Handrawan Nadesul menambahkan, efek kerokan yang hendak dicapai adalah mengembangnya pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak, sehingga darah kembali mengalir deras.
Penambahan arus darah ke permukaan kulit ini meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan virus.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Didik Gunawan Tamtomo yang meneliti tentang Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan ditemukan bahwa  jaringan biopsi kulit sesudah kerokan mendapatkan ekskoriasi stratum korneum epidermis, sembab jaringan sub epitel, kapiler melebar, sebukan ringan sel limfosit dan monosit, sel eritrosit perivaskular, tampak pula sel-sel mati (debris). Tanda-tanda tersebut di atas merupakan suatu reaksi inflamasi. Didapatkan simpulan bahwa pada pengobatan kerokan terjadi reaksi inflamasi, dan tidak terdapat kerusakan pada kulit.

Sebaiknya kerokan dilakukan dari arah atas ke bawah. Bisa juga mendatar. Sebaiknya arah kerokan disesuaikan dengan meridian. Supaya efektif kerokannya, sebaiknya berdasarkan pada titik akupuntur dan meridiannya sesuai dengan keluhan penyakit yang terjadi.
Satu hal yang patut diingat dan dilakukan bila Anda sudah kerokan adalah tidak mandi karena setelah kerokan, pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik sekalah kulit dengan lap basah (yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas).
Selain itu, Anda juga harus ingat bahwa kerokan hanyalah sebuah langkah pencegahan. Anda tetap harus ke dokter untuk mengkonsultasikan kondisi ini bila dalam tiga hari, sakit Anda tidak sembuh. Yang jelas, selama sakit lakukanlah hal-hal pendukung lainnya seperti misalnya banyak minum jus jeruk dan tomat, mengkonsumsi makanan dan minuman hangat (seperti wedang jahe, sup kaldu ayam segar yang ditambah wortel, brokoli, bawang merah dan putih) serta istirahat secukupnya

SUMBER : http://www.gizi.net dan CDK 160/ vol. 35 no. 1 Jan - Feb 2008

If you enjoyed this post Subscribe to our feed

No Comment

Poskan Komentar